Senin, 18 Agustus 2014

Museum Mandala Bhakti




Bangunan ini pertama kali dirancang sebagai Raad van Justitie atau Pengadilan Tinggi bagi golongan rakyat Eropa di Semarang. Maka tidaklah heran apabila massanya sedemikian formal dan kaku. Perancangnya adalah arsitek I. Kuhr E. dari Firma Ooiman dan van Leeuwen. Bangunan ini terletak frontal dari arah jl. Pemuda tepat di depannya adalah lapangan Tugumuda (d.h Wilhelmina plein).Melihat dari tahun berkaryanya Ir. Kuhr E. di Indonesia, diperkirakan bahwa bangunan Raad van Justitie ini dibangun sekitar tahun 1930. Tahun 1950-an bangunan ini digunakan oleh Kodam IV Diponegoro sebagai Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II.
Museum Mandala Bhakti Semarang ini merupakan museum perjuangan TNI. Museum Mandala Bhakti Semarang ini menyimpan beberapa koleksi tentang data, dokumentasi, persejnjataan TNI baik yang tradisional hingga senjata yang modern. Serta alat-alat yang digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Museum Mandala Bhakti Memiliki dua lantai dan orientasi bangunan ke arah Utara. Pondasi dari batu, srtuktur dari bata dan dinding dari bata berplester.Bentuk atap limasan dengan bahan penutup dari genteng. Terdapat serambi pada sepanjang sisi depan bangunan, baik pada lantai pertama maupun lantai kedua.Serambi lantai pertama dinaungi lantai balkom lantai kedua. Sedangkan serambi lantai kedua dengan atap yang menyatu dengan bangunan utama. Serambi ini sebagian dinding bagian atas. Entrance tampil menonjol dengan pelubangan yang berfungsi sebagai bovenlicht dan elemen estetis. Demikian juga dinding sebelahnya, dihiasi dengan lubang-lubang yang memberi kesan formal pada fasadenya.

Jam operasional 

Hari Selasa sampai Kamis pukul 08.00 - 18.00 WIB ; Jumat pukul 08.00 - 10.30 WIB ; Minggu pukul 08.00 - 12.00 WIB. Khusus untuk hari senin dan hari libur nasional tutup.

Museum Jamu Nyonya Meneer




Museum Jamu Nyonya Meneer merupakan museum jamu pertama di Indonesia. Tak hanya menyaksikan koleksi barang-barang pribadi milik Nyonya Meneer dan proses pembuatan jamu secara tradisional, Anda pun dapat mempelajari tentang sejarah jamu di bumi nusantara.

MUSEUM JAMU NYONYA MENEER
Museum Jamu Pertama di Indonesia

Jamu merupakan salah satu warisan budaya masa lampau yang terus bertahan hingga saat ini. Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan dimulainya tradisi meracik dan meminum jamu, cara memelihara kesehatan dan merawat kecantikan dengan ramuan tradisional ini dipastikan telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu. Hal itu dibuktikan dengan penemuan Prasati Madhawapura yang ditulis pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam prasasti tersebut disebutkan adanya profesi peracik jamu yang dikenal dengan nama acariki. Setelah masa kejayaan Majapahit berakhir, tradisi meracik dan meminum jamu ini terus berlangsung pada masa kerajaan Mataram Islam. Bahkan jamu menjadi konsumsi eksklusif warga keraton.

Pada perkembangannya tradisi meminum jamu tidak hanya dilakukan oleh warga keraton, namun juga mulai dikenalkan kepada masyarakat luas. Resep jamu diwariskan secara turun menurun dan menjadi harta pusaka masyarakat Jawa pada khususnya. Didukung kondisi tanah Indonesia yang subur dan menjadi negara nomor 2 di dunia setelah Brazil dalam hal kekayaan tanaman obat, jamu pun terus berkembang hingga tercipta beragam racikan baru.

Salah satu sosok yang turut melestarikan keberadaan jamu di Indonesia adalah Nyonya Meneer. Berawal dari sakit tak kunjung sembuh yang mendera suaminya, Nyonya Meneer mencoba meracik beragam rempah dan tumbuhan obat menjadi jamu. Tanpa dinyana jamu yang diracik berdasarkan sedikit pengetahuan yang dimilikinya mampu menyembuhkan sakit sang suami. Dari kejadian tersebut Nyonya Meneer mulai memperdalam pengetahuannya tentang jenis-jenis tumbuhan dan cara meracik jamu secara otodidak. Dia pun kemudian mendirikan perusahaan jamu dengan nama Jamu Cap Potret Nyonya Meneer.

Agar pusaka budaya nusantara yang agung dan tinggi nilainya tidak punah digilas laju modernisasi, atas gagasan Ibu Tien Soeharto yang kala itu menjadi ibu negara dibangunlah Museum Jamu Nyonya Meneer pada 18 Januari 1984.

Menaiki tangga museum, kita disambut rangkaian foto yang mengurai sejarah berdirinya PT Jamu Nyonya Meneer. Koleksi selanjutnya adalah barang pribadi Nyonya Mener seperti lumpang dan alu tempat menumbuk jamu pertama yang dia buat, botekan (kotak berlaci tempat menyimpan resep), dacin (alat penimbang tradisional), kebaya encim, keramik, dan perhiasan. Tak ketinggalan pula diorama proses pembuatan jamu dan aneka rupa simplisia (tanaman kering yang siap diracik menjadi jamu). Selain menyaksikan koleksi Museum Jamu Nyonya Meneer, kita juga diajak untuk melihat proses pembuatan jamu secara tradisional. Seorang perempuan dengan pakaian khusus terlihat menggiling racikan jamu di atas pipisan, sedangkan perempuan lainnya membentuk racikan jamu menjadi pilis.
Jamu-jamu produksi Indonesia ini rupanya tidak hanya dipasarkan di wilayah nusantara, melainkan sudah merambah hingga Australia, Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Arab. Karena itu banyak wisatawan mancanegara yang tertarik untuk mengunjungi Museum Jamu Nyonya Meneer. Dalam setahun, tak kurang dari 4 kapal pesiar yang merapat di Pelabuhan Tanjung Mas membawa rombongannya mengunjungi Museum Jamu Nyonya Meneer guna menyaksikan proses pembuatan jamu.

Keterangan:
Jam buka: Senin - Jumat, pukul 10:00 - 15:30 WIB
Kunjungan dengan jumlah lebih dari 25 orang harap menghubungi pengelola museum satu minggu sebelum tanggal kunjungan.

Minggu, 17 Agustus 2014

Museum Ronggowarsita

Berkas:Museum ronggowarsito semarang.jpg


Luas Museum Ranggawarsito mencapai 8.438 meter persegi, terdiri dari pendapa, gedung pertemuan, gedung pameran tetap, perpustakaan, laboratorium, perkantoran, gedung deposit koleksi, dan berdiri di atas lahan seluas dua hektar lebih.

Sebagai museum provinsi terbesar dengan didukung kekayaan lebih dari 50.000 koleksi, Museum Jawa Tengah Ronggowarsito dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang sehingga dapat dinikmati oleh pengunjung. Fasilitas tersebut antara lain 4 gedung pameran tetap, masing-masing terdiri dari 2 lantai; dan satu ruang koleksi emas. Sembilan ruang pameran/galeri Museum Jawa Tengah Ronggowarsito sebagai berikut:

Rabu, 02 Juni 2010

Museum Geoteknologi Mineral


Latar Belakang dan Sejarah

Pada mulanya semenjak periode tahun 1967 sampai dengan 1986, setiap dosen, asisten apabila pulang dari lapangan dimanapun lokasinya membawa buah tangan baik berupa contoh batuan, fosil maupun bahan galian yang semuanya tadi dikumpulkan pada suatu ruang berukuran 4 x 6 m2 di Kampus UPN Jl. Kemetiran Yogyakarta. Disitulah setiap mahasiswa yang dari Ilmu Kebumian dan ilmu-ilmu yang terkait apabila ingin melihat dan mengamati berbagai contoh tersebut dating ke museum tersebut. Selanjutnya atas prakarsa Rektor UPN "Veteran" Yogyakarta (Prof. Drs. H.R. Bambang Soeroto) dengan beberapa dosen di bidang ilmu kebumian mendirikan museum ini dan diberi nama MUSEUM GEOTEKNOLOGI MINERAL, diresmikan oleh Menhankam Jenderal TNI (Purn) Poniman pada tanggal 17 Februari 1988.

Lokasi Museum

Kampus II UPN "VETERAN" Yogyakarta.

Jl. Babarsari No.2 - Yogyakarta

Telp. (0274) 486991 Fax. (0274) 486400

Transportasi

Jarak tempuh dari Bandar udara : 2 Km

Jarak tempuh dari Terminal Bus : 5 Km

Jarak tempuh dari Stasiun KA : 4 Km

Koleksi

Koleksi Museum Geoteknologi Mineral terdiri dari : Tektit, Mineral, Batuan, Foto Sayatan Batuan, Batu Mulia, Bahan Galian, Monolit Tanah, Peta, Panel, Maket, Fosil, Patung, Lukisan, Artefak, CD Film. Foro.

Jadwal Kunjung

Museum di buka pada hari Seni s/d Jum'at jam 08.00 - 14.00 Wib

Hari Sabtu, Minggu dan hari besar tutup kecuali ada pemberitahuan terlebih dahulu.

Harga Karcis Masuk

Gratis/tidak dipungut biaya

Fasilitas

Luas Tanah / Luas Bangunan : 1.000 m2 /750 m2

- Ruang Pameran Tetap

- Ruang Perpustakaan

- RuangPenyimpanan Koleksi

- Ruang Administrasi

- Ruang Audio Visual

- Kantin/Cafetaria

- Toilet

Museum Benteng Vredeburg




Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah museum yang terdapat di Yogtakarta, Indonesia. Museum ini memiliki sejarah panjang tentang asal usulnya.

Berikut ini adalah Sejarah Museum Benteng Vredeburg:


Masa Belanda

Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 yang berrhasil menyelesaikan perseteruan antara Susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I kelak) adalah merupakan hasil politik Belanda yang selalu ingin ikut campur urusan dalam negeri raja-raja Jawa waktu itu. Nama Perjanjian Giyanti, karena traktat tersebut disepakati di Desa Giyanti, suatu desa yang terletak di dekat Surakarta.


Perjanjian yang berhasil dikeluarkan karena campur tangan VOC selalu mempunyai tujuan akhir memecah belah dan mengadu domba pihak-pihak yang bersangkutan. Demikian pula dengan perjanjian Giyanti. Orang Belanda yang berperan penting dalam lahirnya Perjanjian Giyanti tersebut adalah Nicolaas Harting, yang menjabat Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa (Gouverneur en Directeur van Java’s noordkust) sejak bulan Maret 1754.

Pada hakekatnya perjanjian tersebut adalah perwujudan dari usaha untuk membelah Kerajaan Mataram menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Untuk selanjutnya Kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alogo Adul Rachman Sayidin Panata Gama Khalifatulah I. Sedang Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono III.

Langkah pertama yang diambil oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah segera memerintahkan membangun kraton. Dengan titahnya Sultan segera memerintahkan membuka hutan Beringan yang terdapat dusun Pacetokan. Sri Sultan Hamengku Buwono I mengumumkan bahwa wilyah yang menjadi daerah kekuasaannya tersebut diberi nama Ngayogyakarta Adiningrat (Ngayogyakarta Hadiningrat) dengan ibukota Ngayogyakarta. Pemilihan nama ini dimaksudkan untuk menghormati tempat bersejarah yaitu Hutan Beringan yang pada j=zaman almarhum Sri Susuhunan Amangkurat Jawi (Amangkurat IV) merupakan kota kecil yang indah. Di dalamnya terdapat istana pesanggrahan yang terkenal dengan Garjitowati. Kemudian pada zaman Sri Susuhunan Paku Buwono II bertahta di Kartasura nama pesanggrahan itu diganti dengan Ngayogya. Pada masa itu dipergunakan sebagai tempat pemberhentian jenazah para bangsawan yang akan dimakamkan di Imogiri.

Hutan kecil ini mula-mula adalah tempat peristirahatan Sunan Pakubuwono II dengan nama Pesanggrahan Garjitowati. Untuk selanjutnya beliau menggantinya dengan nama Ayogya (atau Ngayogya). Nama Ngayogyakarta ditafsirkan dari kata “Ayuda” dan kata “Karta”. Kata “a” berarti tidak dan “yuda” berarti perang. Jadi “Ayuda” mengandung pengertian tidak ada perang atau damai. Sedangkan “Karta” berarti aman dan tentram. Jadi Ngayogyakarta dapat diartikan sebagai “ Kota yang aman dan tenteram”.

Disamping sebagai seorang panglima perang yang tangguh Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah pula seorang ahli bangunan yang hebat. Kraton Kasultanan Yogyakarta pertama dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755. Selama pembangunan keraton berlangsung, Sultan dan keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang Gamping, kurang lebih selama satu tahun. Pada hari Kamis Pahing, tanggal 7 Oktober 1756 meski belum selesai dengan sempurna, Sultan dan keluarga berkenan menempatinya. Peresmian di saat raja dan keluarganya menempati kraton ditandai dengan candra sangkala “Dwi Naga Rasa Tunggal”. Dalam tahun jawa sama dengan 1682, tanggal 13 Jimakir yang bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 1756. Setelah kraton mulai ditempati kemudian segera disusul berdiri pula bangunan-bangunan pendukung lainnya. Kraton dikelilingi tembok yang tebal. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan dengan aneka rupa dan fungsi. Bangunan kediaman sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, selesai dibangun tahun 1756. Bangunan Sitihinggil dan Pagelaran selesai dibangun tahun 1757. Gapura penghubung Dana Pertapa dan Kemagangan selesai tahun 1761 dan 1762. Masjid Agung didirikan tahun 1771. Benteng besar yang mengelilingi kraton selesai tahun 1777. Bangsal Kencana selesai tahun 1792. Demikianlah kraton Yogyakarta berdiri dengan perkembangan yang senantiasa terjadi dari waktu ke waktu. Melihat kemajuan yang sangat pesat akan kraton yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I, rasa kekhawatiran pihak Belanda mulai muncul. Sehingga pihak Belanda mengusulkan kepada Sultan agar diijinkan membangun sebuah benteng di dekat kraton. Pembangunan tersebut dengan dalih agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Akan tetapi dibalik dalih tersebut maksud Belanda yang sesungguhnya adalah untuk memudahkan dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam kraton. Letak benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju kraton menjadi indikasi bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng stragi, intimidasi, penyerangan dan blokade. Dapat dikatakan bahwa berdirinya benteng tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Sultan memalingkan muka memusuhi Belanda. Besarnya kekuatan yang tersembunyi dibalik kontrak politik yang dilahirkan dalam setiap perjanjian dengan pihak Belanda seakan-akan menjadi “kekuatan” yang sulit dilawan oleh setiap pemimpin pribumi pada masa kolonial Belanda. Dalam hal ini termasuk pula Sri Sultan Hamengku Buwono I. Oleh karena itu permohonan ijin Belanda untuk membangun benteng, dikabulkan. Sebelum dibangun benteng pada lokasinya yang sekarang (Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta), pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan HB I telah membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk bujur sangkar. Di keempat sudutnya dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Oleh Sultan keempat sudut tersebut diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Menurut penuturan Nicolas Harting seorang Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa di Semarang, bahwa benteng tersebut keadaannya masih sangat sederhana. Tembok dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Bangunan di dalamnya terdiri atas bambu dan kayu dengan atap ilalang.Dalam perkembangan selanjutnya sewaktu W.H. Ossenberch menggantikan kedudukan Nicolas Hartingh, tahun 1765 mengusulkan kepada Sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen agar lebih menjamin kemanan. Usul tersebut dikabulkan, selanjutnya pembangunan benteng dikerjakan dibawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan yang bernama Ir. Frans Haak. Tahun 1767 pembangunan benteng dimulai. Menurut rencana pembangunan tersebut akan diselesaikan tahun itu juga. Akan tetapi dalam kenyataannya proses pembangunan tersebut berjalan sangat lambat dan baru selesai tahun 1787. Hal ini terjadi karena pada masa tersebut Sultan yang bersedia mengadakan bahan dan tenaga dalam pembangunan benteng, sedang disibukkan dengan pembangunan Kraton Yogyakarta, sehingga bahan dan tenaga yang dijanjikan lebih banyak teralokasi dalam pembangun kraton. Setelah selesai bangunan benteng yang telah disempurnakan tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti “Benteng Peristirahatan”.

Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga banyak merobohkan beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen (yang dibangun tahun 1824), Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg serta bangunan-bangunan yang lain. Bangunan-bangunan tersebut segera dibangun kembali. Benteng Rustenburg segera diadakan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai bangunan benteng yang semula bernama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang berarti “Benteng Perdamaian”. Nama ini diambil sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dengan pihak Belanda yang tidak saling menyerang waktu itu.

Bentuk benteng tetap seperti awal mula dibangun, yaitu bujur sangkar. Pada keempat sudutnya dibangun ruang penjagaan yang disebut “seleka” atau “bastion”. Pintu gerbang benteng menghadap ke barat dengan dikelilingi oleh parit. Di dalamnya terdapat bangunan-bangunan rumah perwira, asrama prajurit, gudang logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah residen. Di Benteng Vredeburg ditempati sekitar 500 orang prajurit, termasuk petugas medis dan para medis. Disamping itu pada masa pemerintahan Hindia Belanda digunakan sebagai tempat perlindungan para residen yang sedang bertugas di Yogyakarta. Hal itu sangat dimungkinkan karena kantor residen yang berada berseberangan dengan letak Benteng Vredeburg.Sejalan dengan perkembangan politik yang berjadi di Indonesia dari waktu ke waktu, maka terjadi pula perubahan atas status kepemilikan dan fungsi bangunan Benteng Vredeburg. Secara kronologis perkembangan status tanah dan bangunan Benteng Vredeburg sejak awal dibangunnya (1760) sampai dengan runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda (1942) adalah sebagai berikut :

'Tahun 1760 – 1765' Pada awal pembangunannya tahun 1760 status tanah merupakan milik kasultanan. Tetapi dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC) dibawah pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa.

'Tahun 1765 – 1788' Secara yuridis formal status tanah tetap milik kasultanan tetapi secara de facto penguasaan benteng dan tanahnya dipegang oleh Belanda. Usul Gubernur W.H. Van Ossenberg (pengganti Nicolaas Hartingh) agar bangunan benteng lebih disempurnakan, dilaksanakan tahun 1767. Periode ini merupakan periode penyempurnaan Benteng yang lebih terarah pada satu bentuk benteng pertahanan.

'Tahun 1788 – 1799' Pada periode ini status tanah benteng secara yuridis formal tetap milik kasultanan, secara de facto dikuasai Belanda. Periode ini merupakan saat digunakannya benteng secara sempurna oleh Belanda (VOC). Bangkrutnya VOC tahun 1799 menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda). Sehingga secara de facto menjadi milik pemerintah kerajaan Belanda.

'Tahun 1799 – 1807' Status tanah benteng secara yuridis formal tetap milik kasultanan, tetapi penggunaan benteng secara de facto menjadi milik Bataafsche Republik (Pemerintah Belanda) di bawah Gubernur Van Den Burg. Benteng tetap difungsikan sebagai markas pertahanan.

'Tahun 1807 – 1811' Pada periode ini benteng diambil alih pengelolaannya oleh Koninklijk Holland. Maka secara yuridis formal status tanah tetap milik kasultanan, tetapi secara de facto menjadi milik Pemerintah Kerajaan Belanda di bawah Gubernur Daendels.

'Tahun 1811 – 1816' Ketika Inggris berkuasa di Indonesia 1811 – 1816, untuk sementara benteng dikuasai Inggris dibawah Gubernur Jenderal Rafles. Namun dalam waktu singkat Belanda dapat mengambil alih. Secara yuridis formal benteng tetap milik kasultanan.

'Tahun 1816 – 1942' Status tanah benteng tetap milik kasultanan, tetapi secara de facto dipegang oleh pemerintah Belanda. Karena kuatnya pengaruh Belanda maka pihak kasultanan tidak dapat berbuat banyak dalam mengatasi masalah penguasaan atas benteng. Sampai akhirnya benteng dikuasai bala Tentara Jepang tahun 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang dengan ditandai dengan Perjanjian Kalijati bulan Maret 1942 di Jawa Barat.

Museum ini di buka pada hari:
Selasa s/d Minggu: Pukul 08.30-14.00 WIB
Jumat : Pukul 08.00-11.00 WIB
Sabtu-Minggu : Pukul 08.30-12.00 WIB

Museum Wayang Kekayon


Museum Wayang Kekayon adalah museum mengenai wayang yang ada di kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Raya Yogya-Wonosari Km. 7, kurang lebih 1 km dari Ring Road Timur. Museum yang didirikan pada tahun 1990 ini memiliki koleksi berbagai wayang dan topeng serta menampilkan sejarah wayang yang diperkenalkan mulai dari abad ke-6 sampai abad ke-20. Wayang-wayang di dalam museum ini terbuat baik dari kulit, kayu, kain, maupun kertas.

Sama halnya dengan museum Wayang di Jakarta, museum ini mempunyai beberapa jenis wayang, seperti: wayang Purwa, wayang Madya (menceritakan era pasca perang Baratayuda), wayang Thengul, wayang Klithik (mengisahkan Damarwulan dan Minakjinggo), wayang beber, wayang Gedhog (cerita Dewi Candrakirana), wayang Suluh (mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia), dan lain lain. Berkaitan dengan wayang Purwa, museum ini memiliki beberapa poster yang menggambarkan strategi perang yang dipakai dalam perang Baratayuda antara keluarga Pandawa dan Kurawa, yaitu: strategi Sapit Urang dan strategi Gajah.

Lokasi Museum

Jalan Yogya - Wonosari Km.7 No.277

Telp. (0274) 513218, 379058

Transportasi

Jarak tempuh dari Bandar udara : 6 Km

Jarak tempuh dari Terminal Bus : 5 Km

Jarah tempuh dari Stasiun KA : 10 Km

Koleksi

Koleksi yang ada di Museum Wayang Kekayon berupa : Wayang, Topeng, Busana, dll.

Harga Karcis Masuk

a. Dewasa : Rp. 5.000,-

b. Anak-anak : Rp. 3.000,-

c. Rombongan : Rp. Diskon 10 % diatas 20 orang

Fasilitas

Luas Tanah / Luas Bangunan : 11.000 m2 (1,1 ha) / + 1.000 m2

- Ruang Pameran Tetap

- Ruang Auditorium

- Ruang Laboratorium/Konservasi

- Ruang Penyimpanan Koleksi

- Ruang Bengkel/Preparasi

- Ruang Administrasi

- Kantin/Cafetaria

- Toilet

Museum Yogya Kembali


Museum Monumen Yogya Kembali, adalah sebuah museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang ada di kota Yogyakarta dan dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Museum yang berada di bagian utara kota ini banyak dikunjungi oleh para pelajar dalam acara darmawisata.
Rana di pintu masuk museum

Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Tandu dan dokar (kereta kuda) yang pernah dipergunakan oleh Panglima Besar Jendral Soedirman juga disimpan di sini

1. Taman Dan Sekitarnya

Bila pengunjung masuk Monumen Jogja Kembali melalui Pintu Timur dapat diamati koleksi antara lain :

* § Replika Pesawat Cureng , Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Rilo Pambudi, tanggal 29 juni 1994.
* § Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam PSU Bofors L - 60 kaliber 40 mm. Meriam ini sumbangan dari Kasad, diambil dari Gudbalkir, Guspusgat dan optic Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996.
* § Replika Pesawat Guntai. Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal pertama Sutria Tubagus pada tanggal 29 juli 1996.
* § Meriam PSU - S60 kal. 57 mm dan PSU Bofors L-60 kal. 40 mm.
* § Logo/lambang.
* § Daftar nama - nama Pahlawan.

2. Koleksi Hall Lantai Satu

Lantai pertama terdiri dari :

2. ?
* Ruang Pengelola atau Ruang Bagian Umum
* Ruang Perpustakaan
* Ruang Serbaguna
* Ruang Bagian Operasional
* Ruang Souvenir

Hall lantai 1 ini dipamerkan koleksi antara lain :

* § Patung Dada Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemoharjo.
* § Panil foto pelaksanaan Pembangunan Monumen Jogja Kembali.
* § Patung foto Imam Bonjol ( 1722 - 1864 ).
* § Meriam Jugo M - 48.
* § Dokar Tentara Pelajar.
* § Patung Nyi Ageng Serang.
* § Meriam PSU akan Bofors.
* § Patung Teungku Umar ( 1854 - 1899 ).
* § Patung Tjut Nya dien ( 1850 - 1908 ).
* § Meriam PSU Ourlikon Kal. 20 mm.
* § Meriam Jugo M-48 kal. 76 mm.
* § Panil Dinding foto kegiatan Tentara Pelajar.
* § Dinding Ruang Serbaguna.

3. Koleksi Museum

Ruang museum yang merupakan ruang pamer tetap dengan tema ” Seputar Pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949 “.

* § Evokatif Dapur Umum
* § Evokatif Palang Merah Indonesia
* § Peta Timbul Route Konsolidasi Kompenggunan WK III
* § Peta Timbul Pembagian Wilayah Wehrkreis III
* § Alat Cetak Proef
* § Unit Caraka
* § Seperangkat Meja Kursi Tamu
* § Peta Timbul Serangan Umum 1 Maret 1949
* § Potret Diri Para Kompenggunan Sub Wehrkreis III
* § Seperangkat Meja Kursi
* § Vitrin Sudut
* § Dinding Ruang Museum Sebelah Utara
* § Meja Kerja Sri Sultan Hamengkubuwono IX
* § Meja Kerja Sri Paduka Paku Alam VIII
* § Bagan Susunan Pemerintahan

Ruang museum yang merupakan ruang pamer tetap dengan tema ” Yogya Sebagai Ibukota Negara republik Indonesia “.

* § Patung Dada Ir. Soekarno
* § Patung Dada drs. Moh. Hatta
* § Teks Proklamasi
* § Foto Dokumen kegiatan Presiden dan Wakil Presiden di Yogyakarta
* § Tempat Tidur Presiden Soekarno
* § Foto Dokumen kegiatan Presiden Bersama keluarga dan Wakil Presiden di Yogyakarta
* § Patung Dada Ki Hadjar Diwantara
* § Patung Dada Kyai Haji Mas Mansyur
* § Peta Timbul Wilayah RIS
* § Meja dan Kursi Tamu Wakil Presiden Moh. Hatta
* § Potret Diri Tokoh Pimpinan Republik Indonesia
* § Kursi Kerja Komite Nasional Indonesia daerah
* § Foto Dokumen Kegiatan KNID dan KNIP

4. Koleksi Relief Dan Diorama

Koleksi Relief :

* § Relief 01, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta
* § Relief 02, Gema Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta 05 September 1945
* § Relief 03, Petrempuran Kota Baru, 07 Oktober 1945 di Butai Kotabaru Yogyakarta
* § Relief 04, Kongres Pemuda di Balai Mataram Yogyakarta, 10 November 1945
* § Relief 05, Pemilihan Panglima Besar TKR di Yogyakarta, 12 November 1945
* § Relief 06, Serangan Udara Sekutu di Kota Yogyakarta, 27 November 1945
* § Relief 07, Yogyakarta Menjadi Ibukota Republik Indonesia, 04 Januari 1946
* § Relief 08, berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada di Yogyakarta, 03 maret 1946
* § Relief 09, Pengawalan dan Pengangkutan Tawanan Jepang di Yogyakarta, 28 April 1946
* § Relief 10, Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Yang Pertama di Yogyakarta, 17 Agustus 1946
* § Relief 11, Hari Ulang Tahun Pertama Angkatan Perang REpublik Indonesia di Yogyakarta, 05 Oktober 1946
* § Relief 12, Peringatan 6 Bulan Berdirinya Militer Akademi di Yogyakarta, 06 Oktober 1946
* § Relief 13, Perjanjian Linggar Jati, 15 November 1947
* § Relief 14, Pelantikan Pucuk Pimpinan TNI, 28 juni 1947
* § Relief 15, Persiapan Serangan Balas Angkatan Udara Republic Indonesia, 29 Juli 1947
* § Relief 16, Kapal Selam yang Petama di Indonesia, Juli 1947
* § Relief 17, Notulen Kaliurang, 13 Januari 1948
* § Relief 18, Penpenggunatanganan Perjanjian Renvile, 17 Januari 1948
* § Relief 19, Pasukan Hijrah Tiba di Yogyakarta, Februari 1948
* § Relief 20, Bantuan Obat-obatan dari Mesir, 05 Maret 1948
* § Relief 21, Pemberantasan Buta Huruf di Yogyakarta, April 1948
* § Relief 22, Penumpasan Pemberontakan PKI Madiun, Tanggal 18 s/d 30 September 1948
* § Relief 23, Panglima Besar Jendral Soederman Menyusun Surat Perintah Kilat, 19 Desember 1948
* § Relief 24, Perlawana TNI dan Polisi Negara di Desa Janti, Yogyakarta, 19 Desember 1948
* § Relief 25, Serangan Balas Terhadap Kedudukan Tentara Belpengguna di Kota Yogyakarta, 29 Desember 1948
* § Relief 26, Markas Besar Komando Jawa di Desa Boro, Kabupaten Kulon Progo, Januari 1949
* § Relief 27, penghancuran Jembatan kalipentung, Februari 1949
* § Relief 28,29,30,31, Serangan Umum 01 Maret 1949 di Yogyakarta
* § Relief 32, Jendral mayor Meiyer Mengancam Sri Sultan Hamengkubuwono IX, 03 Maret 1949
* § Relief 33, Penghadangan Konvoi Tentara Belpengguna di Desa serut, Prambanan, 15 Maret 1949
* § Relief 34, Penarikan Mundur Tentara Belpengguna dari Kota Yogyakata, 29 Juni 1949
* § Relief 35,36, TNI, Polisi, Gerilyawan Masuk Kota Yogyakarta, 29 Juni 1949
* § Relief 37, Pimpinan Negara Kembali ke Ibu Kota Yogyakarta, 06 Juli 1949.
* § Relief 38, Panglima Besar Soederman tiba di Yogyakarta, 10 Juli 1949
* § Relief 39, Konferensi Inter Indonesia di Yogyakarta, 19 Juli 1949
* § Relief 40, Presiden Soekarno Kembali ke Jakarta, 28 Desember 1949.

Koleksi Diorama :

* § Diorama 1, Penyerbuan Rakyat Belpengguna Terhadap Lapangan Terbang Maguwo, 19 Desember 1948
* § Diorama 2, Panglima Besar Soederman Melapor Kepada Presiden RI untuk Memimpin Perang Gerilya, 19 Desember 1948
* § Diorama 3, Presiden dan Wakil Presiden dan Para Pimpinan lainnya Diasingkan ke Sumatera, 22 Desember 1948
* § Diorama 4, Perlawanan Rakyat bersama Tentara Nasional Indonesia Terhadap Belpengguna, 23 Desember 1948
* § Diorama 5, Konsolidasi dan Pembentukan sector Pertahanan di Ngoto, 23 dan 26 Desember 1948
* § Diorama 6, Serangan Umum 1 Maret 1949
* § Diorama 7, Penpenggunatanganan Roem-Roijen Statement, 29 Juni 1949
* § Diorama 8, Penarikan Tentara Belpengguna dari Yogyakarta, 17 Agustus 1949.

5. Garbha Graha

* § Unit Bendera Pusaka
* § Unit Relief Simbolik
* § Unit Kata Mutiara ( Pesan Pelaku Pejuang )